Category Archives: Ngoceh

Jalan panjang sebuah perasaan

Hehehe….ada baiknya tulisan ini saya awali dengan tertawa, saya tertawa entah karena merasa geli dengan judul tulisannya? atau karena hal lain yang berkaitan dengan isi tulisan ini nantinya.

Dalam melakukan pendekatan ke lawan jenis, ada yang bilang pria lebih memakai jargon “lebih cepat lebih baik” dan perempuan “alon – alon asal kelakon” meski dalam beberapa kasus berlaku sebaliknya. Tetapi diluar itu dan berbagai macam sifat atau sikap manusia ada sesuatu yang bisa dibilang berlaku umum, si pria di tuntut agresif dan si perempuan sebaiknya pasif. aturan ini masih cukup banyak penganutnya, baik dari golongan pendidikan rendah, menengah maupun yang dibilang tinggi.

Jika memang sikap pasif seorang perempuan harus terus dibudidayakan mungkin hal ini lebih karena menyatakan perasaan bagi seorang perempuan tidak dimasukkan kedalam tuntutan persamaan hak yang sering disuarakan.  Dan sikap aktif yang harus dimiliki pria, bisa jadi ditujukan untuk menjaga marwah sebagai seorang lelaki yang nantinya akan bertanggung jawab sebagi pengambil keputusan dalam sebuah hubungan atau rumah tangga.

Dalam konteks ini tentunya tidak ada yang benar atau salah , tapi memikirkan lagi pandangan – pandangan yang berlaku umum untuk didefinisi ulang adalah sebuah proses berfikir yang perlu untuk terus dilatih. Karena suatu peraturan, baik yang tertulis maupun tidak, yang berlaku pada waktu tertentu tidak lepas dari kondisi sosial dan lingkungan pada saat peraturan itu mulai diterapkan.

Dengan tulisan ini tidak pula saya berharap sekonyong – konyong perempuan berubah jadi seperti lelaki dalam melakukan pendekatan yang mungkin malah akan berakibat menggelikan bagi sebagian pria. Harapannya adalah adanya suatu kondisi sinergis antara perempuan dan pria yang sudah berkeinginan untuk berkomitmen, tidak perlu “pakewoh” dengan tradisi lama yang mungkin kondisinya sudah berbeda. tidak pula menjadi seperti sinetron yang berusaha memperpanjang episode agar slot iklan semakin banyak. ini adalah hubungan antara dua manusia yang harusnya berlangsung jujur dan sederhana, jangan sampai memakai pepatah lama yang berbunyi “kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah”. karena proses pernyataan sebuah perasaan ini hanyalah sebuah awalan atau pintu masuk yang harusnya tidak juga terlalu berat karena tantangan sebenarnya adalah proses mempertahankan sebuah hubungan itu sendiri.

sekian.

Tagged ,

Memaknai kemenangan

memaknai kemenangan bukanlah suatu yang gampang – gampang amat tapi terlalu sukar untuk dimengerti.

Anda mungkin berpikir ada yang salah dengan larik kalimat pertama di atas, hal itu karena anda terlalu sering menggunakan kalimat negasi setelah “tapi” sesuai dengan kaidah bahasa. tapi apakah kita boleh menggunakan kalimat pendukung setelah kata “tapi” menurut saya yang bukan ahli bahasa, hal ini juga bukan merupakan penggunaan kalimat yang tepat tetapi tetap saja diperbolehkan asalkan tidak digunakan dalam ujian bahasa jika anda tidak ingin mendapatkan nilai yang kurang baik.

Sama dengan pola kalimat di atas yang tidak seperti biasa, saya juga mencoba memikirkan makna kemenangan sesuai keinginan saya. jika /me-nang dalam http://kbbi.web.id/menang berarti dapat mengalahkan, unggul dll seperti yang bisa anda lihat di link tersebut, tetapi menurut saya koq ya kita tetep aja kalah dan tidak akan pernah menang karena tidak banyak yang benar – benar tau siapa yang harus kita kalahkan dan kita harus unggul dari siapa.

kemenangan hanyalah suatu pertanda bahwa kita harus segera bersiap menghadapi sesuatu yang lebih besar atau mengalahkan sesuatu yang lebih kuat. sedangkan kekalahan adalah suatu pertanda kita harus meningkatkan kemampuan kita agar dapat mengatasi masalah yang menghadang. lha kalau apa yang ada dalam otak saya seperti itu bukankah sah – sah saja saya bilang mau menang mau kalah ya sama saja karena tetap kita harus berjuang dan berjuang lagi.

jika saya berpikiran, mungkin orang yang merasa mempunyai kemenangan tersebut sedang membutuhkan motivasi tambahan untuk melangkah, sedangkan orang yang merasa mempunyai kekalahan akan tetap berjuang seperti biasa. berdasarkan pemikiran diatas jika saya mempunyai pemikiran orang kalah punya daya tahan yang lebih apakah pemikiran saya bisa dipersalahkan.

dari hasil pemikiran sekilas kemudian terbesit dalam benak saya, mungkin kemenangan dan kekalahan itu tidaklah nyata dan hanya sebuah fatamorgana, di lain waktu kita bisa jadi merasa menang, dilain waktu kita bisa merasa kalah atau di waktu bersamaan kita bisa merasa mengalami dua – duanya. Maka dari itu janganlah terlalu euforia dengan merasa memiliki kemenangan dan janganlah merasa berkecil hati jika mempunyai perasaan kalah, karena keduanya akan berlalu dan silih berganti. Sejauh ini satu – satunya yang saya ketahui sebagai pemilik kemenangan yang sah adalah dia yang selalu dekat dengan kekasih hatinya.

Selamat Tahun Baru

@tiaeq

Tagged

Piknik ke jogja (1) : Kereta ekonomi sebagai perawat kebhinekaan

Memainkan gadget diruangan ber-AC , headset menempel di telinga, aneka raut wajah yang disebabkan hanya memandang layar yang berwarna tanpa melihat atau memperhatikan sekeliling bahkan dengan tak jarang meski dengan teman seperjalanan disampingnya adalah gambaran yang cukup dianggap “lumrah” jika kita berada di sebuah ruang tunggu bandara. tapi hal tersebut akan menjadi sesuatu yang cukup asing jika anda berada di ruang tunggu pasar senen.

Ini tentunya bukan pertama kalinya saya berkunjung dan naik kereta dari pasar senen, tapi ini menjadi unik ketika setelah sekian tahun tidak pernah merasakan fasilitas baru yang ditawarkan kereta kelas ekonomi yang menurut pengakuan beberapa teman kereta tersebut cukuplah nyaman. Pada tanggal 6 Desember 2014 tersebut saya naik kereta gaya baru menuju stasiun lempuyangan – Yogyakarta hanya untuk sekedar melepas diri dari rutinitas yang merupakan berkah bagi kami kaum yang terpenjara oleh ketakutan tidak bisa makan jika kita tidak melakukannya.

Kesan yang saya dapat saat memasuki kereta ekonomi tersebut sudah cukup berbeda dengan apa yang saya alami pada saat naik kereta ekonomi pada saat kuliah di bandung dahulu. kereta yang cukup bersih dan yang paling menakjubkan adalah kereta berangkan tepat waktu, merupakan sesuatu yang patut di apresiasi meskipun datangnya belum tentu tepat waktu juga bukankah niat saja sudah dicatat sebagai amal baik 🙂

Saya kira cukup sudah puja – puji untuk perbaikan fasilitas ini karena mungkin saja besok lebih baik lagi jadi saya tidak kehabisan kata untuk memujinya begitupun kalau besok mengalami penurunan fasilitas saya tidak perlu segan untuk mengkritiknya dan yang paling penting adalah tulisan saya kali ini tidak berfokus ke hal tersbut.

Lalu apakah yang membuat saya tertarik menuliskan ini? yang mendorong saya menulis ini adalah bagaimana interaksi penumpang selama kereta ini berjalan. di dalam kereta yang satu bloknya berisi 10 orang (6 orang saling berhadapan di satu sisi dan 4 orang berhadapan di sisi lainnya) dari blok yang saya kira tidak lebih dari 1,5 – 2 m X 3-3,5m . bersama-sama ke sepuluh orang tersebut menempuh perjalanan berjam – jam, lalu apakah mungkin mereka tidak berinteraksi? jawaban saya pribadi adalah sangat kecil kemungkinan, dengan ruang yang cukup sempit  anda harus mengubah posisi kaki, pantat, pergi ke toilet atau sekedar mencari angin. untuk melakukan itu semua anda setidaknya harus mengucapkan kata – kata yang cukup sederhana semisal: permisi.

Dengan kereta gaya baru tujuan akhir surabaya yang diperkirakan memakan waktu kurang lebih 12 jam tentu merupakan suatu yang membosankan apabila kita hanya duduk dan tidur, saya yang turun di jogja dengan waktu tempuh kurang lebih 6 jam saja sudah merasakan suntuk dan untuk menghilangkannya kita sudah mulai melakukan beberapa interaksi dengan penumpang terutama yang satu blok.

Orang yang pada awalnya memasang muka dingin dan seakan ingin menjaga imagenya lama – lama juga jenuh dengan apa yang sedang dipertontonkannya sendiri. di awali dengan menawarkan makanan mulai lah si Bapak yang berwajah cukup tenang tersebut membuka pembicaraan mengenai anak perempuannya yang beranjak dewasa dan cukup membanggakan bagi keluarganya karena keberhasilannya mendapatkan beasiswa bahkan tawaran pekerjaan sebelum dia lulus. bercerita mulai dari daerah cirebon sampai akan masuk jogja merupakan perjalanan yang cukup lama tetapi bagi saya cukup menghibur karena saya pribadi mendapatkan cara pandang baru bagaimana orang tua memandang anak – anaknya dan apa yang menyebabkan mereka begitu ikhlas melakukan pengorbanan bagi anak -anaknya. Hampir tak muncul kata pengharapan untuk anak – anaknya melakukan sesuatu untuknya yang ada hanyalah kebanggaan dan kebanggaan, mungkin memang itu saja yang di inginkan orang tua yang adil dalam menjalani hidupnya.

Belum lagi seorang bapak yang dari awal memang cukup aktif bercerita dan berusaha membuat lelucon di kursi sebelah, seorang ibu yang berusaha tidak membuat tersinggung si Bapak dengan hanya melempar senyum kecil tiap kali si Bapak melucu, seorang bapak yang memang lebih banyak diam dan tidur sepanjang perjalanan, belum lagi teman saya sebut saja dia Tomy Firmansyah yang berusaha mengimbangi bapak yang banyak cerita dengan dialog – dialog kecil. melihat betapa majemuknya tipe manusia dalam satu lorong tempat duduk ini terpikir mungkin inilah salah satu tempat yang masih menunjukkan gambaran kebhinekaan atau mungkin ini adalah tempat kita dipaksa untuk menghargai kebhinekaan tersebut.

Tagged ,

Jalan Pulang (1)

Sekitar 2012, kombinasi kata ini mengalami penambahan makna yang cukup istimewa dalam pemikiran saya. bermula dari obrolan santai beberapa teman baru yang cukup inspiratif sampai pada akhirnya saya harus memikirkan kembali beberapa pemikiran – pemikiran yang saya anggap benar. jika kita berpikir mengenai “Jalan Pulang” tentulah kita harus memikirkan beberapa hal, antara lain:

  1. Sekarang kita dimana?
  2. Kenapa kita ada di tempat ini (saat ini) ?
  3. Kita akan pulang kemana?
  4. Mengapa kita harus pulang?
  5. Apa yang kita perlukan agar sampai kesana?

Untuk orang – orang yang menyadari bahwa saat ini kita dalam proses bergerak / berjalan, pengetahuan dasar yang diperlukan adalah flexible dan dinamis. ini tidak berarti kita tidak mempunyai pegangan atau prinsip yang jelas karena flexible dan dinamis itu memerlukan bahan dasar tetapi kita juga harus mengakomodir beberapa inputan yang akan memperkaya referensi kita untuk menghadapi perubahan itu sendiri.

Untuk menjaga kerunutan alur penulisan, mungkin pertama yang kita akan menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas.

Sekarang kita dimana?

Saat ini saya berada didunia kehampaan yang segalanya hanya dinilai dengan sebutan, misalnya orang yang mempunyai banyak harta disebut orang kaya, orang yang bisa menjawab banyak pertanyaan disebut orang pintar atau pandai, alat pertukaran barang disebut uang. tetapi apakah pernah kita pikirkan bahwa semua itu tidak mempunyai patokan yang jelas dan vulgar, bahkan standarnya pun hanya berdasarkan perjanjian dari suatu komunitas dan sudah barang tentu perjanjian itu juga bisa dirubah pada suatu saat. lalu untuk apa kita mencintai semua kehampaan dan ketidak-jelasan ini?

Kenapa kita berada ditempat ini (saat ini) ?

Saya saat ini masih termasuk golongan mereka yang percaya sesuatu terjadi karena suatu alasan, lalu untuk alasan apa kita harus berada pada dunia kehampaan ini,. saya yakin pertanyaan ini akan mempunyai banyak jawaban yang beraneka ragam, bahkan satu orang bisa jadi saat beda waktu juga mempunyai pandangan yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa manusia selalu mendahulukan persepsi sampai akhirnya tindakan akan menghadirkan bukti empiris yang akan mengadilinya.

Kita akan pulang kemana ?

menurut hemat saya akan ada dua kelompok jawaban, yang pertama orang yang  belum yakin benar dia akan pulang kemana tetapi yang pasti dia meyakini dunia ini bukanlah tempatnya, dan yang kedua adalah orang “merasa” sudah tahu kemana dia akan pulang.

Mengapa kita harus pulang ?

Beragam jawaban yang akan didapatkan tetapi satu – satunya yang perlu kita tahu adalah rumah adalah tempat untuk melepas lelah, beristirahat dan ini merupakan simpul awal dan akhir dari suatu perjalanan.

Apa yang kita perlukan agar sampai kesana?

Tidak semua perjalan akan mencapai titik perhentian yang diinginkan ada yang tersesat, ada yang menyerah tetapi ada pula yang berdamai dengan keinginannya. kuda tunggangan untuk mencapai ini adalah: ketabahan, fokus dan komitmen.

Rizha Fakhrudin (@tiaeq)

Wadah selalu lebih besar dari isinya

“Wadah selalu lebih besar dari isinya” , jika teringat kata – kata ini selalu ter-asosiasi dengan BH dan isinya Honda dan Valentino Rossi . Bagaimana dulu kala saya berdiskusi mengenai motoGP dengan seorang @nino_LMJ_new yang sedang dalam top performance sebagai seorang kepala cabang showroom Honda di Papua. Tentunya bukan saya yang ke Papua tetapi kawan saya ini sedang melepas penat di jakarta. Saat bercengkerama dia sudah banyak mengatakan filosofi perusahaannya tetapi kata – kata yang masih saya ingat adalah Rossi bukan merupakan masalah ketika dia pergi, Ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa nama Honda lebih besar dari dia. sebelum saya lanjutkan artikel ini saya menyudahi tulisan yang menyangkut temen saya tersebut, karena mungkin dia sedang membuat pesan untuk anaknya kelak dewasa nanti.

Kutipan diatas sepertinya cukup relevan untuk kondisi Barcelona dan Messi yang sedang digadang-gadang akan mengakhiri kerjasama, tak mudah memang dalam situasi seperti itu bahkan mungkin lebih banyak faktor emosional yang akan terlibat dalam pengambilan keputusan nantinya daripada faktor – faktor lainnya. Tapi jika Messi mengikuti seperti apa yang telah dilakukan mantan pelatihnya Pep Guardiola dan juga legenda hidup MotoGP Valentino Rossi dan sukses dengan klub barunya nanti mungkin bisa dijadikan pembuktian bahwa dia adalah sosok yang menginpirasi suatu klub untuk meraih sukses, sekaligus untuk menjawab kritik terhadap dirinya yang sampai sekarang masih belum berhasil membawa negaranya ke prestasi puncak seperti apa yang telah di tunjukkan oleh Diego Maradona.

jadi perseteruan ini bukanlah tentang barca tetapi lebih untuk Messi yang ditantang untuk membuat pencapaian – pencapaian baru sehingga bisa kita dapatkan bukti empiris bahwa Messi memang seorang maestro bola yang bisa sejajar atau bahkan lebih bila dibandingkan dengan pendahulunya.

Tagged ,

Penjaga Rumah

Saat jongkok merenung diatas toilet tiba – tiba terpikir bermacam – macam cara orang menjaga rumah beserta properti yang dimilikinya, mulai orang biasa yang jaga rumah sendiri atau ikut giliran rutin untuk ronda, ada juga yang menambah pengamanan rumahnya dengan mendatangkan seekor anjing, ada yang menyewa penjaga rumah dan yang lebih beruntung mungkin akan menkombinasikan antara penjaga rumah dan anjing, seperti yang sering kita lihat di hotel – hotel mewah di kawasan sudirman atau kuningan dekat tempat saya bekerja saat ini.

Ternyata setelah berpikir penjaga rumah, lha koq saya juga inget status – status di facebook yang ditulis oleh orang – orang yang merasa intelek “mengupas” tuntas kekurangan – kekurangan kebijakan Presiden dan para pembantu yang berada di belakangnya, hampir setiap status atau link yang di share adalah kekurangannya, sebenarnya ini juga bukan hal baru tetapi sudah sejak masa kampanye di mulai …hehehe, tetapi akhir – akhir ini saya lebih senang karena orang – orang ini sekarang sudah mulai membahas HAM yang dulu terutama masa – masa kampanye adalah hal yang haram untuk di bicarakan bagi kaumnya..dan semoga mereka konsisten mendukung isu HAM secara menyeluruh….hehehe

eits…jangan tuduh saya adalah bagian dari tim pemenangan salah satu capres mungkin lebih enak saya disebut tim penggagalan salah satu capres saja itu lebih terhormat…hehehe. lha kalau tidak bisa membedakan saya akan jelaskan apa perbedaannya pemenangan dan penggagalan. kalau pemenangan itu akan selalu meng-agung-kan junjungannya tetapi jika penggagalan adalah lebih menjelaskan apa kekurangan dari calon yang ingin digagalkan. dan menurut saya memilih Presiden bukanlah memilih orang suci sebagai panutan tetapi memilih yang lebih baik dari pilihan yang ada…itu aja..

lha apa hubungannya penjaga rumah dengan status FB yang selalu memberikan kekurangannya ?? saya berpikir bahwa presiden baru ini sungguh di beri rahmat yang berlimpah, coba bayangkan, selain di beri kewenangan untuk memilih penjaga rumah, dia juga akan mendengar “gongongan” yang akan selalu mengingatkannya untuk tetap pada kodratnya.

sebelum usai, ada satu hal yang perlu kita perlu tahu, yaitu pasti ada beda antara penjaga rumah (satpam) dengan anjing penjaga?

 

Tagged ,

Alasan dicoretnya Bustomi

Melihat dua pertandingan awal timnas di ajang aff cup, mulai terlihat apa maksud dari alfred riedl mencoret bustomi dari skuad timnas yang dibawa ke vietnam ini. tentu saja setiap pelatih mempunya sudut pandang dan hak untuk memutuskan pemain mana saja yang dianggap sesuai dengan kebutuhan skema dan taktik yang akan dimainkan.

melihat pertandingan lawan vietnam kita masih bisa ber wak prasangka bahwa lini tengah yang kosong merupakan bagian dari taktik karena tidak ada pemain yang bertipe sebagai pembagi bola. Ternyata di pertandingan kedua firman utina dimasukkan sebagai starting eleven tetapi setidaknya sampai babak pertama (tulisan ini di draft) permainan dari timnas tetap tidak menggunakan lini tengah sebagai awal merancang penyerangan alias menggunakan long pass. Sasaran long pass ini tentu saja SVD (sergio van djik) yang lebih di fungsikan sebagai pemantul bola baik itu ke Boaz Salosa di pertandingan pertama, Samsul Arif pertandingan kedua atau Zulham Zamrun.

Bahkan sampai sejauh ini hampir tidak ada pertarungan dilini tengah, baik waktu penyerangan atau pertahanan karena gelandang bertahan macam raphael maitimo pun tidak dapat bermain maksimal. Selain itu dapat dikatakan 3 gol sejauh ini yang menjebol gawang kurnia mega adalah hasil dari “umpan” pemain kita sendiri.

sejauh ini dapat kita lihat alasan kenapa tipe pemain macam bustomi tidak masuk di timnas mungkin karena alfred riedl cukup butuh barisan pertahanan dan juga “kepala” SVD untuk menjalankan rencana permainannya.

Tagged ,

Sebatang Dulu

Mungkin ingatan kita melekat pada orang yang merokok, tetapi saya kira kata tersebut sekarang juga mempunyai makna “menunggu”, sama halnya seperti yang saat ini sedang saya lakukan..saya sedang “sebatang dulu” yang tak jelas juga apa yang saya tunggu.

Tetapi sebatang dulu juga mempunyai makna yang cukup mendalam dan dapat mewakili keseluruhan kehidupan kita, mungkin berlebihan, ya mungkin saja karena kita sedang “sebatang dulu” akan datangnya kematian. “sebatang dulu” bisa juga menunjukkan ketidaksiapan kita akan melakukan atau menghadapi sesuatu, apapun itu.. tetapi bagi ahli startegi bisa jadi mempunyai makna lain sebagai bagian dari strategi yang diterapkan.

Lalu apakah kita memang sudah mempunyai strategi dalam menikmati “sebatang dulu” kehidupan ini? Kalau saat ini saya ditanya saya juga akan berkata berikan saya “sebatang dulu”.

Tagged ,

JuKir

Sore hari disaat akan pergi ke sebuah mall di malang ternyata harus membuat rencana untuk singgah ke tempat makan yang menyajikan menu andalan bebek sebut saja bebek slamet namanya. langsung saja saat memasuki area parkir melihat seorang anak muda duduk di atas scooter yang kinclong meski usianya saya yakin lebih tua daripada tuannya, dan yang lebih mengasikkan adalah karena saya juga sedang membawa scooter yang mungkin seusia sama scooter miliknya.

Proses makan kita skip karena memang ga ada yang penting dan yang pasti makanan dari Bebek Slamet dengan dada remuknya tidak pernah mengecewakan saya di kota mana saja warung itu ada (yang sudah saya coba di jakarta, Yogyakarta dan Malang). Pada saat keluar inilah ada sesuatu yang menarik, seperti halnya Juru Parkir (JuKir) lainnya biasanya mereka menerima saja berapapun yang dikasih oleh pengendara kepadanya terutama di kota – kota yang tidak terlalu besar seperti malang.

Setelah sampai di motor kita masing – masing kita sengaja memberikan uang parkir lebih tetapi kita mendapatkan respon yang jarang saya pribadi temui, kadang pada saat mereka mau kasih kembalian kemudian kita bilang “ga usah mas” mereka langsung tersenyum dan bilang makasih, tetapi sang scooterist ini agak unik saat adik saya bilang ga usah sebentar dia tinggal karena harus kawal mobil keluar setelah selesai pekerjaannya dia kemudian kembali ke Ibu saya dan bilang “ini kembaliannya Bu kalau motor cuma 1000” dia bilang, ibu saya jawab ga usah, setelah usaha ke Ibu ga berhasil dia pindah ke Bapak saya mau kasih kembalian kemudian Bapak saya bilang “sudah mas di bawa saja”. akhirnya dia menyerah dan mengucapkan terima kasih.

Sekilas mungkin biasa tapi ada point penting yang saya suka dari scooteris satu ini, pertama dia tidak pernah lupa untuk melakukan kewajibannya terlebih dahulu, kedua dia hanya meminta sesuai haknya tidak lebih ini yang kadang kita tidak sadari (atau mungkin saya sendiri yang tidak sadar) apalagi dengan pendapatan yang pasti tidak terlalu besar dia bisa merasa cukup merupakan sesuatu yang istimewa.

Jika ditarik lebih jauh dengan membandingkan dengan mereka yang mengaku sebagai “wakil” para rakyat dimana jukir tersebut ada didalamnya, dimana kewajibannya saja belum selesai dia kerjakan mereka tidak hanya meminta haknya tetapi juga tambahan THR dan macam – macamlah. maka dari itu apakah itu wajah yang wakil dari jukir itu? atau kah memang kenyataan dari kita memang lebih banyak seperti mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat??

Tetapi saya mempunyai keyakinan jika kita lebih berpatisipasi dalam lingkungan kita untuk menunjukkan karakter yang diperlukan agar kita layak disebut sebagai manusia yang mempunyai rasa kemanusiaan maka semuanya akan berubah menjadi manusia.

 

Salam..

Tagged ,

#NjajalPikiren

#njajalpikiren adalah hashtag yang jika di artikan dalam bahasa indonesia adalah “coba pikirkan” , hashtag #njajalpikiren ini adanya di fb kakak saya sendiri, hastagh ini berisi pertanyaan/pernyataan yang kebanyakan bersifat filosofis seperti “Doa adalah saat kau berbicara kepada Tuhan. Lalu, kapan saat kau mendengarkan Tuhan??#NjajalPikirendan “Orang yang beribadah karena mengharap surga ibarat pedagang yang selalu ingin untung. Orang yang beribadah karena takut neraka ibarat budak yang takut pada tuannya. Orang yang beribadah sebagai ungkapan syukur, dialah orang yang merdeka..*NjajalPikiren”. Setiap pertanyaan/pernyataan tersebut memaksa orang untuk berpikir sebelum menjawab, intinya hashtag ini bagi saya lebih bermakna sebagai bahan instropeksi diri saya dan menurut saya kurang layak jika ditanyakan ke khalayak umum apalagi jika dipakai untuk menguji tingkat pemahaman seseorang, tetapi jika dipakai sebagai bahan diskusi “close friend” yang mempunyai minat yang sama akan menjadi bahan yang sangat menarik.

Setelah saya bener – bener  sering melakukan apa yang diminta yaitu njajal mikir koq berasa ada yang kurang, kenapa tidak berlanjut ke #njajalcobaen kalau bahasa indonesianya adalah “coba dilakukan” karena saya berpikir kalau kita terus – terusan diminta untuk berpikir itu ibarat kita sudah punya tujuan membangun rumah tetapi kita hanya selalu membuat pondasi tetapi tidak pernah berlanjut ke next step seperti membuat dinding, atap, pintu, jendela dan interiornya.

Bukankah hidup itu sendiri adalah suatu gerak dinamis yang tidak hanya berhenti di satu titik, setidaknya kita haruslah meyakini bahwa semua hasil pemikiran itu memerlukan media aktualisasi agar kita dapat menakar ulang asumsi kebenaran yang kita miliki sehingga kita dapat mengikis sikap ekslusif yang kita miliki. Di lain pihak hal ini juga diperlukan agar apa yang kita pelajari juga tidak dianggap sebagi hasil ekstase semata dan bukan hasil empiris.

Setelah ada hashtag #njajalpikiren (coba pikirkan) semoga ada #njajalcobaen (coba dilakukan) dan ujungnya adalah dengan munculnya hastagh #Ikihasile (Ini Hasilnya)  sehingga satu siklus pembelajaran dapat terpenuhi.

Tagged