Piknik ke jogja (1) : Kereta ekonomi sebagai perawat kebhinekaan

Memainkan gadget diruangan ber-AC , headset menempel di telinga, aneka raut wajah yang disebabkan hanya memandang layar yang berwarna tanpa melihat atau memperhatikan sekeliling bahkan dengan tak jarang meski dengan teman seperjalanan disampingnya adalah gambaran yang cukup dianggap “lumrah” jika kita berada di sebuah ruang tunggu bandara. tapi hal tersebut akan menjadi sesuatu yang cukup asing jika anda berada di ruang tunggu pasar senen.

Ini tentunya bukan pertama kalinya saya berkunjung dan naik kereta dari pasar senen, tapi ini menjadi unik ketika setelah sekian tahun tidak pernah merasakan fasilitas baru yang ditawarkan kereta kelas ekonomi yang menurut pengakuan beberapa teman kereta tersebut cukuplah nyaman. Pada tanggal 6 Desember 2014 tersebut saya naik kereta gaya baru menuju stasiun lempuyangan – Yogyakarta hanya untuk sekedar melepas diri dari rutinitas yang merupakan berkah bagi kami kaum yang terpenjara oleh ketakutan tidak bisa makan jika kita tidak melakukannya.

Kesan yang saya dapat saat memasuki kereta ekonomi tersebut sudah cukup berbeda dengan apa yang saya alami pada saat naik kereta ekonomi pada saat kuliah di bandung dahulu. kereta yang cukup bersih dan yang paling menakjubkan adalah kereta berangkan tepat waktu, merupakan sesuatu yang patut di apresiasi meskipun datangnya belum tentu tepat waktu juga bukankah niat saja sudah dicatat sebagai amal baikšŸ™‚

Saya kira cukup sudah puja – puji untuk perbaikan fasilitas ini karena mungkin saja besok lebih baik lagi jadi saya tidak kehabisan kata untuk memujinya begitupun kalau besok mengalami penurunan fasilitas saya tidak perlu segan untuk mengkritiknya dan yang paling penting adalah tulisan saya kali ini tidak berfokus ke hal tersbut.

Lalu apakah yang membuat saya tertarik menuliskan ini? yang mendorong saya menulis ini adalah bagaimana interaksi penumpang selama kereta ini berjalan. di dalam kereta yang satu bloknya berisi 10 orang (6 orang saling berhadapan di satu sisi dan 4 orang berhadapan di sisi lainnya) dari blok yang saya kira tidak lebih dari 1,5 – 2 m X 3-3,5m . bersama-sama ke sepuluh orang tersebut menempuh perjalanan berjam – jam, lalu apakah mungkin mereka tidak berinteraksi? jawaban saya pribadi adalah sangat kecil kemungkinan, dengan ruang yang cukup sempit Ā anda harus mengubah posisi kaki, pantat, pergi ke toilet atau sekedar mencari angin. untuk melakukan itu semua anda setidaknya harus mengucapkan kata – kata yang cukup sederhana semisal: permisi.

Dengan kereta gaya baru tujuan akhir surabaya yang diperkirakan memakan waktu kurang lebih 12 jam tentu merupakan suatu yang membosankan apabila kita hanya duduk dan tidur, saya yang turun di jogja dengan waktu tempuh kurang lebih 6 jam saja sudah merasakan suntuk dan untuk menghilangkannya kita sudah mulai melakukan beberapa interaksi dengan penumpang terutama yang satu blok.

Orang yang pada awalnya memasang muka dingin dan seakan ingin menjaga imagenya lama – lama juga jenuh dengan apa yang sedang dipertontonkannya sendiri. di awali dengan menawarkan makanan mulai lah si Bapak yang berwajah cukup tenang tersebut membuka pembicaraan mengenai anak perempuannya yang beranjak dewasa dan cukup membanggakan bagi keluarganya karena keberhasilannya mendapatkan beasiswa bahkan tawaran pekerjaan sebelum dia lulus. bercerita mulai dari daerah cirebon sampai akan masuk jogja merupakan perjalanan yang cukup lama tetapi bagi saya cukup menghibur karena saya pribadi mendapatkan cara pandang baru bagaimana orang tua memandang anak – anaknya dan apa yang menyebabkan mereka begitu ikhlas melakukan pengorbanan bagi anak -anaknya. Hampir tak muncul kata pengharapan untuk anak – anaknya melakukan sesuatu untuknya yang ada hanyalah kebanggaan dan kebanggaan, mungkin memang itu saja yang di inginkan orang tua yang adil dalam menjalani hidupnya.

Belum lagi seorang bapak yang dari awal memang cukup aktif bercerita dan berusaha membuat lelucon di kursiĀ sebelah, seorang ibu yang berusaha tidak membuat tersinggung si Bapak dengan hanya melempar senyum kecil tiap kali si Bapak melucu, seorang bapak yang memang lebih banyak diam dan tidur sepanjang perjalanan, belum lagi teman saya sebut saja dia Tomy Firmansyah yang berusaha mengimbangi bapak yang banyak cerita dengan dialog – dialog kecil. melihat betapa majemuknya tipe manusia dalam satu lorong tempat duduk ini terpikir mungkin inilah salah satu tempat yang masih menunjukkan gambaran kebhinekaan atau mungkin ini adalah tempat kita dipaksa untuk menghargai kebhinekaan tersebut.

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: