Jalan Pulang (1)

Sekitar 2012, kombinasi kata ini mengalami penambahan makna yang cukup istimewa dalam pemikiran saya. bermula dari obrolan santai beberapa teman baru yang cukup inspiratif sampai pada akhirnya saya harus memikirkan kembali beberapa pemikiran – pemikiran yang saya anggap benar. jika kita berpikir mengenai “Jalan Pulang” tentulah kita harus memikirkan beberapa hal, antara lain:

  1. Sekarang kita dimana?
  2. Kenapa kita ada di tempat ini (saat ini) ?
  3. Kita akan pulang kemana?
  4. Mengapa kita harus pulang?
  5. Apa yang kita perlukan agar sampai kesana?

Untuk orang – orang yang menyadari bahwa saat ini kita dalam proses bergerak / berjalan, pengetahuan dasar yang diperlukan adalah flexible dan dinamis. ini tidak berarti kita tidak mempunyai pegangan atau prinsip yang jelas karena flexible dan dinamis itu memerlukan bahan dasar tetapi kita juga harus mengakomodir beberapa inputan yang akan memperkaya referensi kita untuk menghadapi perubahan itu sendiri.

Untuk menjaga kerunutan alur penulisan, mungkin pertama yang kita akan menjawab pertanyaan – pertanyaan diatas.

Sekarang kita dimana?

Saat ini saya berada didunia kehampaan yang segalanya hanya dinilai dengan sebutan, misalnya orang yang mempunyai banyak harta disebut orang kaya, orang yang bisa menjawab banyak pertanyaan disebut orang pintar atau pandai, alat pertukaran barang disebut uang. tetapi apakah pernah kita pikirkan bahwa semua itu tidak mempunyai patokan yang jelas dan vulgar, bahkan standarnya pun hanya berdasarkan perjanjian dari suatu komunitas dan sudah barang tentu perjanjian itu juga bisa dirubah pada suatu saat. lalu untuk apa kita mencintai semua kehampaan dan ketidak-jelasan ini?

Kenapa kita berada ditempat ini (saat ini) ?

Saya saat ini masih termasuk golongan mereka yang percaya sesuatu terjadi karena suatu alasan, lalu untuk alasan apa kita harus berada pada dunia kehampaan ini,. saya yakin pertanyaan ini akan mempunyai banyak jawaban yang beraneka ragam, bahkan satu orang bisa jadi saat beda waktu juga mempunyai pandangan yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa manusia selalu mendahulukan persepsi sampai akhirnya tindakan akan menghadirkan bukti empiris yang akan mengadilinya.

Kita akan pulang kemana ?

menurut hemat saya akan ada dua kelompok jawaban, yang pertama orang yang  belum yakin benar dia akan pulang kemana tetapi yang pasti dia meyakini dunia ini bukanlah tempatnya, dan yang kedua adalah orang “merasa” sudah tahu kemana dia akan pulang.

Mengapa kita harus pulang ?

Beragam jawaban yang akan didapatkan tetapi satu – satunya yang perlu kita tahu adalah rumah adalah tempat untuk melepas lelah, beristirahat dan ini merupakan simpul awal dan akhir dari suatu perjalanan.

Apa yang kita perlukan agar sampai kesana?

Tidak semua perjalan akan mencapai titik perhentian yang diinginkan ada yang tersesat, ada yang menyerah tetapi ada pula yang berdamai dengan keinginannya. kuda tunggangan untuk mencapai ini adalah: ketabahan, fokus dan komitmen.

Rizha Fakhrudin (@tiaeq)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: