JuKir

Sore hari disaat akan pergi ke sebuah mall di malang ternyata harus membuat rencana untuk singgah ke tempat makan yang menyajikan menu andalan bebek sebut saja bebek slamet namanya. langsung saja saat memasuki area parkir melihat seorang anak muda duduk di atas scooter yang kinclong meski usianya saya yakin lebih tua daripada tuannya, dan yang lebih mengasikkan adalah karena saya juga sedang membawa scooter yang mungkin seusia sama scooter miliknya.

Proses makan kita skip karena memang ga ada yang penting dan yang pasti makanan dari Bebek Slamet dengan dada remuknya tidak pernah mengecewakan saya di kota mana saja warung itu ada (yang sudah saya coba di jakarta, Yogyakarta dan Malang). Pada saat keluar inilah ada sesuatu yang menarik, seperti halnya Juru Parkir (JuKir) lainnya biasanya mereka menerima saja berapapun yang dikasih oleh pengendara kepadanya terutama di kota – kota yang tidak terlalu besar seperti malang.

Setelah sampai di motor kita masing – masing kita sengaja memberikan uang parkir lebih tetapi kita mendapatkan respon yang jarang saya pribadi temui, kadang pada saat mereka mau kasih kembalian kemudian kita bilang “ga usah mas” mereka langsung tersenyum dan bilang makasih, tetapi sang scooterist ini agak unik saat adik saya bilang ga usah sebentar dia tinggal karena harus kawal mobil keluar setelah selesai pekerjaannya dia kemudian kembali ke Ibu saya dan bilang “ini kembaliannya Bu kalau motor cuma 1000” dia bilang, ibu saya jawab ga usah, setelah usaha ke Ibu ga berhasil dia pindah ke Bapak saya mau kasih kembalian kemudian Bapak saya bilang “sudah mas di bawa saja”. akhirnya dia menyerah dan mengucapkan terima kasih.

Sekilas mungkin biasa tapi ada point penting yang saya suka dari scooteris satu ini, pertama dia tidak pernah lupa untuk melakukan kewajibannya terlebih dahulu, kedua dia hanya meminta sesuai haknya tidak lebih ini yang kadang kita tidak sadari (atau mungkin saya sendiri yang tidak sadar) apalagi dengan pendapatan yang pasti tidak terlalu besar dia bisa merasa cukup merupakan sesuatu yang istimewa.

Jika ditarik lebih jauh dengan membandingkan dengan mereka yang mengaku sebagai “wakil” para rakyat dimana jukir tersebut ada didalamnya, dimana kewajibannya saja belum selesai dia kerjakan mereka tidak hanya meminta haknya tetapi juga tambahan THR dan macam – macamlah. maka dari itu apakah itu wajah yang wakil dari jukir itu? atau kah memang kenyataan dari kita memang lebih banyak seperti mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat??

Tetapi saya mempunyai keyakinan jika kita lebih berpatisipasi dalam lingkungan kita untuk menunjukkan karakter yang diperlukan agar kita layak disebut sebagai manusia yang mempunyai rasa kemanusiaan maka semuanya akan berubah menjadi manusia.

 

Salam..

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: