Sate untuk orang yang “nrimo”

Hari ini 09 November 2013, setelah lebih banyak melakukan kegiatan di kamar dan berkutat dengan laptop, TV atau Telepon Genggam sejak jumat malam, akhirnya saya punya rasa bosan juga dan memutuskan untuk makan malam tanpa membawa telepon genggam dan terlepas apapun itu yang namanya media sosial, hanya ingin menikmati makan malam dan suasana yang ada. Makan malam pun tidak terlalu mewah hanya nasi goreng di ujung gang, tapi karena antrian pesanan lumayan banyak jadinya saya bisa ngobrol – ngobrol dengan sang koki sebut saja “Gendhut” dan asistennya yang tidak lain adalah adiknya yang bernama nanang.

yang dibicarakan sih sebenarnya juga standar aja tetapi karena saya lagi pengen nulis ya saya ceritain saja disini biar ada update post dan terlihat terawatlah blog saya🙂 . Pada waktu datang sih ada 4 orang yang cewek abg (anak baru gede) yang sudah hampir selesai makan, saya datang dan minta permisi untuk duduk disampingnya tetapi tidak beberapa lama mereka pergi karena memang sudah bayar. setelah itu yang duduk memang hanya saya di warung tetapi ternyata masih ada pesanan yang harus diselesaikan sebelum mereka memasak pesanan saya. Setelah pesanannya terakhir selesai akhirnya pesanan saya mulai dibuat yaitu nasi mawut + telor ceplok sambil memasak gendhut bercerita dan akhirnya sambil menoleh ke penjual nasi goreng keliling yang sekarang nongkrong di dekat warungnya dia mengucapkan sesuatu tetapi saya kurang jelas mendengarnya karena belum selesai berbicara si nanang adiknya sudah memotong dengan megucapkan kata – kata “ojo ngunu kang, setiap uwong kui wes enek rejekine dewe-dewe” kalau dalam bahasa indonesia berbunyi “jangan begitu kak, setiap orang itu sudah ada rejekinya masing – masing “.  Nanang ini mungkin berusia sekitar 14 – 15 th, saya tidak tau sampai lulusan apa dia sekolah yang pasti dia belum lama membantu kakaknya berjualan di jakarta, diawal masa baktinya di warung nasi goreng ini si nanang sangat sering di persalahkan oleh kakaknya dan setiap di persalahkan sebenarnya dia juga memberi alasan kenapa dia melakukan seperti itu tetapi gaya bahasanya memang tidak membuat orang yang menyalahkan seperti ditentang. Meskipun diawal dia sering salah membuat takaran makanan yang akan diolah tetapi akhir – akhir ini dia mulai mahir dan kadang jika si gendhut lagi makan si nanang lah yang bertugas memasak. Saya sendiri sebenarnya suka jika nanang yang memasak untuk saya tetapi meskipun begitu dia dengan sangat sopan masih bertanya terlebih dahulu “mas ra popo nek rasane bedo?” kalau di indonesiakan “Mas ga papa kalau nanti rasannya berbeda?” saya jawab “hajar aja nang”.

Sambil menikmati makanan yang selesai di olah saya memikirkan kata – kata dia yang mengingatkan kakaknya untuk tidak membahas penjual nasi goreng lainnya yang mangkal di dekat warung mereka, saya berpikir betapa nrimo dan besar kepercayaan dia akan kuasa Tuhan, menurut saya dia bisa mengimplementasi sikap sedang pada tempatnya dan selalu merasa cukup. kata – katanya memang sederhana tetapi jika dilihat yang mengatakan adalah Nanang seorang anak yang menurut saya masih lebih pantas untuk belajar mata pelajaran esok hari daripada menyiapkan makanan, kata – kata tersebut seperti mempunyai pengaruh yang lebih. Nanang oh nanang terima kasih telah mengingatkan saya untuk selalu merasa cukup sehingga saya tidak menjadi hamba uang atau kekayaan dunia ini dan semoga saya bisa tetap menjadi tuannya. Setelah saya selesai makan, saya pergi memesan sate kambing 10 tusuk di samping warung mereka, awalnya si gendhut bingung dan bertanya “pesen satenya koq waktu nasinya udah habis mas?” saya jawab sambil membayar nasi goreng yang telah saya habiskan dengan bilang “satenya saya beli untuk adekmu..hehe” si gendhut tambah bingung “lha emang kenapa di beliin mas, lagi ulang tahun?” saya jawab “Karena adekmu lucu..hehe” dan saya pun bergegas pergi.

Sambil berjalan saya tersenyum berpikir bahwa sungguh indah cara Tuhan mengingatkan ciptaanNya, tidak dengan teriak – teriak, tidak dengan membawa pukulan, tidak dengan presentasi monolog tetapi dengan banyak berinteraksi dan sikap terbuka dalam interaksi tersebut.

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: