Ikutan Pawai Religius

Hari senin, 14 oktober 2013 tepat sehari sebelum idul adha, saya dan beberapa kawan masih masuk kerja karena memang ada yang harus dikerjakan. Setelah bekerja seharian kita pergi makan di daerah sabang jakarta pusat, sekitar pukul 22.00 kita semua bersepakat untuk pulang ke kost masing – masing. Karena saya tidak pakai motor maka saya menunggu taksi untuk mengantar saya pulang, setelah sekian lama menunggu akhirnya ada juga taksi yang masih kosong lewat dan saya pun memberhentikannya.

setelah masuk seorang bapak yang mungkin berasal dari indonesia timur berkata “mau kemana?” saya jawab “ke kota bambu selatan pak, lewat tomang, terus wisma lampung belok kiri aja pak” kemudian bapak itu diam saja. waktu di perempatan sabang saya baru tau ternyata bapak itu lagi kesal, dia bilang “mau lewat mana lagi ini” kemudian saya tanya “nyebrang ke BI ga boleh pak?” dia jawab “ditutup semua bang, padahal cuma nyebrang” kemudian saya bilang “ya udah pak lewat jalan lain saja, santai aja pak”. akhirnya bapak itu belok kanan menuju stasiun mungkin rencananya mau lewat harmoni. setelah di depan stasiun macetnya ternyata lebih parah dan dia bilang “wah jadi mancing pikiran yang negatif ya bang, padahal ini kan pawai religius harusnya baik- baik tp malah bikin emosi orang , coba di kasih info jauh-jauh hari dan di kasih rute alternatifnya” saya masih diem. karena banyak yang ambil jalan berlawanan dan ada polisi yang cuma diem di pojokan tanpa berusaha mengatur sama sekali, sopir taksi itu ikutan balik arah kemudian monolog lagi “udah habis nalar saya, liat aja tuh bang gimana mau di hargai dia (polisi) kalau cuma diem kayak gitu”.

saya jadi mikir bahaya juga nih kalau bapaknya lagi nyetir tapi emosi, akhirnya saya buat becandaan tentang polisi saya bilang “Bang tau ngga syarat utama jadi polisi” bapak itu bilang “uang Bang?” saya jawab “bukan bang”, tapi saya juga ga mau nulis di sini ah jawabannya, karena saya takut nulisnya..hehehe. yang penting akhirnya bapak itu bisa tertawa, ga emosi dan kita ganti panggilan “Bang”. kemudian kita saling tanya jawablah dengan santai, salah satunya “Bang tau ngga kenapa sepanjang jalan sabang itu kebanyakan yang punya toko etnis Tionghoa?” dia tanya “wah ga tau bang”, saya jawab “Saya juga ga tau bang, tp salah satu kemungkinannya mungkin karena dulu etnis tionghoa susah masuk pemerintahan makanya mereka cari cara untuk mengatasi keadaannya dan akhirnya banyak diantara mereka yang berhasil. mungkin kita juga harus meniru cara berpikir mereka ya bang biar kita juga bisa menang dalam hidup ini?” sopir taksi tadi sambil tertawa kemudian dia lanjut bertanya “iya bang, lha kalo kayak gini (macet) gimana cara mengatasinya bang?” sebenarnya saya bingung jawabnya tapi saya jawab sekenanya saja seperti ini “Bang dunia dan keadaannya itu sebenarnya adalah cerminan dari cara berpikir kita, kayak gini nih bang (macet), kalo dilihat macet ya macet tapi coba abang liat anak – anak muda yang sengaja ikutan macet dan nongkrong di depan istiqlal tadi itu kita harusnya bersyukur bang ternyata penduduk negara kita juga banyak yang kaya, coba pikir bang harga minyak mahal tapi mereka tetep aja menghambur – hamburkannya. jadi malam ini kita anggap saja kita lagi jalan – jalan melihat salah satu kekayaan negara kita bang” si bapak sopir taksinya malah ketawa – ketawa padahal saya jawabnya serius.

Setelah percakapan panjang tadi bapak sopir taksi itu menyimpulkan “jadi kita harus diatas keadaan ya bang”, sebenarnya saya juga bingung maskudnya di atas keadaan tadi mungkin menguasai keadaan maksudnya tapi waktu itu saya bilang iya aja. saya pikir percakapan udah usai ternyata dia kembali bertanya dan monolog “kira – kira siapa ya bang yang nantinya bisa membawa perubahan di indonesia ini, harusnya sih mahasiswa tapi sekarang koq rasa – rasanya sudah ga kayak dulu lagi mereka, jadi klo menurut abang siapa?” saya jawab “mungkin seniman bang” dia tanya “koq bisa bang” kembali saya jawab “ya karena menurut saya mereka yang benar – benar seniman tidak akan hanya bekerja karena uang dan pikiran mereka tapi akan lebih banyak memakai hati mereka” dia menimpali “bisa jadi ya bang”. kemudian gantian saya yang monolog “Bang sebenarnya yang susah itu bukan membuat menjadi baik tapi menjaga tetap baik itu yang lebih susah, karena saya sendiri yakin kita itu terlahir semuanya sebagai orang baik tapi ada yang susah untuk menjaga dirinya menjadi tetap baik bang. jadi nanti kalau abang bawa penumpang lain cerita yang baik – baik aja bang siapa tau berpengaruh ke penumpang itu, berbuat baik itu kayak nebar benih aja bang ga tau kapan tumbuhya” dia jawab “iya – iya bang”. (kata – kata yang tercetak miring itu agak saya sesali mengucapkannya karena selain terasa berlagak seperti pendakwah yang paternalistik, kata – kata tersebut cenderung terkesan melempar tanggung jawab saya ke orang lain) . tapi kembali dia bertanya “Bang kerjanya apa?” saya jawab “saya kuli bang” dia kembali tanya “yang benerlah bang” hehe saya jawab “saya kuli ketik bikin program komputer bang” dia bilang “ouw, saya kira tadi abang itu wartawan lho” saya langsung bisa tertawa, dia langsung menimpali “beneran bang, karena analisanya lumayan menggigit”. sebenarnya banyak banget sih yang di obrolin, saking banyaknya saya tulis yang inget dan bagus – bagus menurut saya aja , yang politik tidak usah ditulis.

setelah usai percakapan – percakapan tadi saya berkata ke Pak Sopir untuk  memberi tau jalan alternatif menuju kost dan pada saat memasuki jalan kost  ada beberapa anak mudah yang bawa motor secara ugal – ugalan, dan reflek saya bilang “aduh” si bapak langsung menimpali “tenang bang jangan terpancing tetap senyum saja”. ternyata sekarang gantian bapak itu yang mengingatkan saya, oh indahnya dunia bila kita saling mengingatkan.

tidak lama setelah kejadian itu saya bilang kost saya sudah dekat, Bapak sopir tadi bilang “Semoga kita bisa ketemu lagi ya bang” saya cuma senyum dan meminta printout tarifnya yang totalnya sekitar Rp 50.000 dari biasanya Rp 18.000 (saya minta printoutnya karena mau saya tagihkan ke kantor Rp50.000 nya untuk diganti). setelah printoutnya di kasih saya kasih uang lebih sambil saya bilang saya ucapkan terima kasih karena udah dikasih banyak ilmu. (mungkin yang baca ada yang bilang riya nih karena kasih uang lebih aja di tulis, biar aja dibilang gitu karena saya mikir orang yang takut riya itu orang yang melakukan kebaikan karena pahala jadi terus di itungin pahalanya jadi klo riya takut ilang pahalanya tinggal pahanya doang..hehe. kalau saya kasih lebih karena pengen aja kalau ngga pengen ya enggak :p )

Ternyata Pawai Religius ini memang bener – bener manjadi pawai religius untuk kami berdua, terima kasih pemprov DKI yang sudah menutup jalan sudirman – thamrin senin kemaren.

Tagged ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: