Apa yang kita dapat dari Mudik

Mudik merupakan kata yang paling sering kita dengar di hari – hari mendekati hari raya terutama bagi mereka yang sedang merantau, saling menanyakan kapan mudik? sudah dapat tiket belum? cuti mulai atau sampai kapan? merupakan hal yang lumrah ditanyakan ke teman kantor. Mudik sendiri menurut saya bukan saja menjadi milik kaum muslim tetapi sudah seperti menjadi budaya di indonesia, banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari ritual ini misalnya:

  • tetap terjaganya silaturahmi diantara keluarga bahkan sering juga dari pertemuan di kampung ternyata kita mengetahui bahwa kantor kita bersebelahan.
  • perputaran uang yang lebih merata, dengan banyaknya orang kota yang kembali ke kampung halaman maka terjadi transaksi yang lebih banyak di daerah tujuan.
  • mengingatkan kita ke asal dan dasar pemikiran

Selain hal – hal diatas masih banyak hal kecil lainnya yang bisa kita lihat di kampung saat lebaran, seperti gaya bersolek para gadis desa bahkan ibu-ibu muda yang tidak kalah dengan pemeran sinetron di televisi, kemampuan analisa bapak – bapak di warung kopi terhadap realita terkini yang menurut saya juga tidak kalah dengan komentator – komentator yang sering kita lihat di televisi bahkan menurut saya contoh yang mereka berikan lebih aktual karena merekalah pelaku sebenarnya yang dibicarkaan oleh mereka yang mengaku berada di pusat.

Dari hasil interaksi dengan mereka, saya mencoba menarik kesimpulan bahwa perubahan gaya hidup, pola pemikiran mereka lebih dipengaruhi dari apa yang dilihat di televisi, kenapa saya hanya menyebut televisi karena media lain seperti koran masih menjadi barang mewah, warung internet (Warnet) hanya didominasi anak – anak muda yang bahkan pemanfaatannya lebih banyak untuk game online.

Yang menjadi agak riskan adalah kenyataan bahwa apa yang ditampilkan di televisi tidak semuanya mengandung unsur pendidikan yang bagus, apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa pemilik televisi juga sudah mulai banyak yang terlibat kedalam politik mau tidak mau pasti akan ada filtering informasi yang disampaikan.

Tapi sebagai penikmat atau rantai terbawah dari siklus informasi akan lebih mudah untuk kita mengubah kebiasaan kita daripada meminta mereka merubah acara yang ada di stasiun televisi mereka, dan jika mempunyai sedikit waktu dan kemampuan lebih baik kita menulis tetapi menulispun memerlukan syarat dasar yaitu membaca dan mendengar.

Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: